Keunggulan

 KBTK Pelangi Indonesia menerapkan beberapa nilai yang membuatnya berbeda, diantaranya:

Religious Values (Pendidikan Religiusitas)
Sekolah Pelangi Indonesia tidak mengkhususkan diri pada nilai-niai agama atau kepercayaan tertentu. Nilai yang kami tanamkan adalah nilai universal, kebajikan dan kemanusiaan, menjaga lingkungan, menyayangi teman, berlaku adil dan jujur, dan sebagainya.
Pendidikan agama paling efektif adalah melalui keteladanan orang tua. Namun untuk mendampingi orang tua mengenalkan keyakinan/agama kepada anak, kami menyediakan pelajaran agama di luar jadwal regular khusus. Biasanya diagendakan setiap hari Jumat. Sedangkan untuk doa pagi, doa sebelum makan, maupun doa setelah pembelajaran selesai, disampaikan menggunakan doa umum.


Multikultural Considerations (Penghargaan terhadap Kemajemukan)
Kami sangat mendorong tumbuhnya penghargaan dan penghormatan anak atas keberagaman, kepercayaan, dan budaya (multikultural) yang ada. Kami ajak anak untuk menghormati perayaan hari besar agama dan budaya, misalnya bersama-sama memasak ketupat pada Hari Lebaran, menghias telur Paskah, menghadirkan Bhiksu pada perayaan Waisak, atau merayakan Tahun Baru China dengan membuat ang pao.
Kami juga mendorong siswa yang berasal dari berbagai latar belakang suku dan budaya, misal Ambon, Jawa, Cina, Malaysia, Australia, dan sebagainya untuk berbagi cerita maupun hal khas dari daerah atau kebudayaan mereka.
Kemapuan menghargai da menghormati ini penting dimiliki anak sehingga pada saat memasuki dunia luas anak terbiasa berhadapan dengan masyarakat yang majemuk.
Kami juga mengenalkan berbagai budaya misalnya cara mengucapkan salam, nyanyian, serta permainan tradisional dari berbagai daerah di dunia.


Green School (Kepedulian terhadap Pelestarian Lingkungan)
Kami sangat serius mendorong anak untuk mengenal lingkungan dengan segala potensi dan kerusakan yang terjadi. Kami menginterasikan program sadar lingkungan pada setiap tema, misalnya bergiliran menyiram tanaman, memberi makan ikan dan kura-kura, memilah serta membuang sampah pada tempatnya sehingga dapat didaur ulang.
Kami juga mendorong anak-anak untuk menabung guna mendukung pelestarian lingkungan. Tabungan bersama ini dikenal dengan istilah Tabungan Lingkungan.
Kami memiliki harapan besar kelak mereka menjadi pejuang yang tangguh dalam mengatasi krisis lingkungan yang tengah melanda dunia.


Mempersandingkan Bukan Mempertandingkan
Manusia adalah makhluk sosial yang selalu membutuhkan kerjasama dengan orang lain. Karena itulah setiap manusia harus saling bersinergi satu sama lain. Sinergi  dengan sesama juga sangat diperlukan dalam proses pendidikan. Hal ini sesuai dengan tiga sentra pendidikan yang dikemukakan oleh Ki Hadjar Dewantara yaitu keluarga, sekolah, serta masyarakat. Kerjasama dalam ketiga unsur tersebut nantinya akan membentuk peserta didik yang harmonis, dapat bekerjasama dengan sesama, hidup berdampingan dengan tenang, dan tidak saling bertentangan satu sama lain.
Pelangi Indonesia sebagai lembaga pendidikan mengutamakan pentingnya harmonisasi dalam diri anak didiknya. Manusia yang harmonis tidak berarti manusia yang anti persaingan karena harus selalu bersinergi dengan sesama. Manusia yang harmonis akan memandang perbedaan sebagai hal yang bernilai positif. Hal ini sangat sesuai dengan kondisi Indonesia yang masyarakatnya sangat majemuk, terdiri dari berbagai suku dan budaya.
Pembentukan manusia yang harmonis betumpu pada harmonisasi. Harmonisasi di Pelangi Indonesia mengacu pada metode belajar yang mementingkan kerjasama, misalnya ketika siswa diarahkan untuk mengerjakan portofolio secara berkelompok. Siswa diarahkan untuk saling mendukung dan bekerjasama. Harmonisasi juga membentuk individu yang saling menghargai karena setiap orang adalah pribadi yang unik dan berbeda. Dengan demikian, setiap siswa dapat mengenali perbedaan, saling memahami keunikan setiap pribadi, serta menerima kemajemukan yang ada. Penghargaan atas perbedaan ini salah satunya diwujudkan dalam kegiatan Multikultural Party yang digelar setiap tahun.
Harmonisasi tidak berarti pembatasan untuk pengembangan bakat seorang anak karena harus selalu bersinergi dengan orang lain. Anak dalam masa golden age belum memahami makna yang sesungguhnya tentang persaingan atau pertandingan. Justru orang tualah yang biasanya lebih antusias untuk mengikutsertakan anak dalam sebuah lomba. Padahal anak-anak lebih tertarik pada konsep festival atau pesta yang ada dalam sebuah pertandingan.
Karena itulah anak usia PAUD kurang cocok dengan konsep pertandingan. Lebih bijak bila mereka dibiasakan dengan konsep persandingan agar belajar saling menghargai dan menjadi harmonis. Konsep pertandingan akan lebih bermakna bila keinginan untuk bersaing datang dalam diri anak. Tanamkan juga bahwa persaingan/pertandingan bertujuan untuk mengembangkan bakat, bukan untuk mengalahkan orang lain.
Pertandingan juga merupakan ajang untuk anak melatih emosi (emotional quotient) dan kedisiplinan dalam pengembangan bakat sehingga anak merasa tenang saat menang atau kalah. Kesenangan saat mendapatkan piala kemenangan adalah pemicu untuk belajar lebih giat lagi. Ketika menang, mereka juga tidak menjadi sombong dan merendahkan orang lain. Sedangkan perasaan kurang puas ketika kalah tidak membuat anak terpuruk, tetapi menjadi bahan evaluasi dalam mengembangkan bakat menjadi lebih optimal.

0 comments:

Post a Comment